PENYEBAB KEMUNDURAN KITA
OLEH Amir Syakib Arsalan *
Adalah tidak berlebihan jika dikatakan bahawa keadaan kaum Muslim, baik di bidang spiritual maupun material, tidak memuaskan.
Dengan beberapa perkecualian, di semua negara di mana kaum Muslimin dan bukan-Muslim tinggal berdampingan, kaum Muslimin ketinggalan jauh hampir dalam segala hal. ...
Namun tidak dapat dikontradiksikan bahwa di seluruh Dunia Islam terdapat percampuran yang luas antara tarikan kuat dan kebangunan dalam hal-hal spiritual dan temporal yang benar-benar bergejolak (fenomenal). Bangsa-bangsa Eropah dengan teliti mengamati pernyataan-pernyataan yang revolusioner ini dan manelaah arah dan kecenderungan-
Sebagian di antaranya bisa difahami benar dan diduga sebagai kebangkitan dan perpaduan, dan ini ditunjukkan bukti-buktinya dalam artikel-artikel dan buku-buku yang telah mereka terbitkan. Akan tetapi tidak dapat diketahui dengan mudah bahwa gerakan maju kaum Muslimin ini masih belum sampai ke taraf yang memungkin-kan mereka mendekati kemajuan bangsa-bangsa Eropah. Amerika atau pun Jepun.
Inilah kondisi umum kaum Muslimin sekarang. Apakah sebab-sebab yang mendorong kemunduran umum kaum Muslimin itu? Bukankah dulu kaum Muslimin yang mendapat kepercayaan sebagai pemimpin di Timur mahupun di Barat selama kira-kira 8 atau 9 abad, dan memiliki nama dan kemasyhuran di seluruh dunia?
Kerana itu marilah pertama-tama kita mengkaji faktor-faktor yang mendorong ke arah kemajuan dan kebesarannya, sebelum meneliti sebab-sebab yang mendorong ke arah kemunduran dan kejatuhannya.
Sebab-sebab kemajuan kaum Muslimin, secara sederhana adalah hal-hal yang bersumber pada Islam itu sendiri, yakni yang mendorong kehadirannya di Jazirah Arab itu.
Kelahirannya sebagai kesatuan dengan mempersatukan ras-ras dan suku-suku Arab yang bercerai-berai, mengangkat mereka dari kebiadaban ke peradaban, mengubah sikap kepala batu mereka dengan sikap cinta kasih dan pemaaf, serta menghapuskan tradisi penyembahan kepada berhala-berhala dengan sikap pengabdian kepada Tuhan Yang Esa ....
Dengan diperbaharui dengan dan didorong oleh kekuatan yang dinamik ini mereka mengubah diri mereka sendiri sebagai tuan-tuan bagi separuh dunia dalam jangka waktu setengah abad saja. Tetapi karena adanya perpecahan yang tidak menguntungkan yang mengangkat kembali sikap keras ke-pala mereka terhadap Khilafah Usman dan selama masa Khilafah Ali, maka tak ada satu kekuatan pun di dunia ini
yang dapat mencegah mereka untuk melakukan penaklukan terhadap seluruh dunia. ...
Apabila kita menelaah persoalan tersebut dengan seksama, akan kita dapati bahwa sebahagian besar kekuatan yang mendorong kemenangan dan kemajuan-kemajuan mereka telah tidak ada lagi, walau pun bekas-bekasnya masih dapat dilihat di sana-sini seperti garis-garis yang memudar pada tangan yang bertatu.
Apakah itu hanya sekedar untuk melahirkan sebutan "kaum Muslimin" tanpa harus melaksanakan kowajiban-kewajibannya sebagai Muslim di mana Allah telah menjanjikan ganjaran berupa kebesaran. kemenangan dan kehormatan bagi Orang-orang yang Beriman, maka berasalanlah jika kita lantas bertanya: "Di manakah kehormatan yang diperuntukkan bagi kaum Muslimin itu" sebagaimana dikatakan dalam ayat-ayat al-Qur'an:
Kehormatan adalah milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman (QS. 63:8). "Dan adalah kewajiban Kami untuk memberikan pertolongan kepada orang-orang yang beriman" (Qs. 30:47).
Apakah firman-firman Allah ini berarti bahawa mereka hanya menyatakan diri sebagai kaum Muslimin tanpa harus menghadapi cabaran hidup yang nyata? Jika memang demikian halnya, maka orang tak perlu mempertanyakan masalah kejatuhan dan kemunduran kaum Muslimin itu.
Namun perlu diketahui bahawa ayat-ayat Qur'an itu tidak begitu maksudnya; Tuhan tidak akan melanggar janji-Nya sendiri; dan Qur'an juga akan tetap tidak mengalami perubahan. Tak satu suku kata pun dalam teks Qur'an akan diubah. Perubahan hanyalah terjadi dalam keadaan kaum Muslimin itu.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu bangsa sehingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri" (Qs. 13:11).
Bagaimana mungkin anda berharap bahwa Allah akan membantu suatu bangsa yang enggan berbuat apa-apa untuk kebaikan diri sendiri?
Dia akan memberikan ganjaran yang besar kepada mereka seperti yang pernah diberikan kepada nenek moyang mereka yang hebat dan heroik itu, walau pun kenyataannya bahwa mereka tidak memiliki keberanian seperti keberanian nenek ; moyang pendahulunya? ....
Betapa celakanya kaum Muslimin di masa kini yang mendambakan sesuatu hanya dengan melakukan 5% dari tugas-tugas yang mesti dilakukan, \ dengan mengharapkan ganjaran yang sama dengan mereka 1 yang melakukan 100% dari tugas-tugas itu. ...
Pada masa kini semangat warisan nenek moyang terdahulu, ketekunan dan kesetiaan luhur mereka terhadap agama telah musnah dari kalangan kaum Muslimin. Semangat ini justru kedapatan menjelma di kalangan musuh-musuh Islam, walaupun mereka tidak memperoleh inspirasi serupa dari kitab-kitab suci agama mereka. ...
Dapatkah orang menunjukkan satu bangsa Muslim saja ; pada zaman moderen ini yang telah mengorbankan jiwadan harta mereka tanpa ragu-ragu dan tanpa memperhitungkan untung-rugi untuk kepentingan negara dan bangsa mereka seperti terjadi pada bangsa-bangsa Eropah ini (selama Perang Dunial)?...
Karena itu, jika bangsa-bangsa Muslim mengikuti jejak nenek moyang para pendahulunya dan berbuat sesuai dengan perintah (agama) yang ditujukan kepada mereka, atau sekurang-kurangnya berbuat seperti orang-orang Eropah dengan mengorbankan jiwa dan harta mereka untuk mempertahankan kehormatan dan warisan luhur para pendahulu mereka dan untuk melawan para agresor, maka mereka pasti akan mendapatkan pertolongan (Allah) sebagaimana telah diperoleh oleh bangsa-bangsa lain dengan penderitaan-penderitaan dan pengorbanan-pengorbanan mereka, dan juga akan mendapatkan keselamatan dan keamanan karena pertolongan (rahmat) Allah itu
Akan tetapi tanpa penderitaan-penderitaan dan pengor-banan-pengorbanan, tanpa semangat pengorbanan diri dan kesediaan untuk mati syahid, tanpa menggunakan kekayaan dan harta dan tanpa semangat yang menyala-nyala untuk mendapatkan jalan lurus yang ditunjukkan Tuhan, kaum Muslimin malah berharap dapat mempertahankan harga diri, kohormatan dan kemerdekaan mereka hanya dengan berdoa kepada Allah untuk meminta pertolongan-Nya! ...
Islam sebenarnya tidak cukup hanya dengan shalat, pu-asa dan berdzikir atau merengek-rengek. Apakah ada ang-gapan bahwa Tuhan dapat disuruh mengabulkan doa orang-orang yang pada saat masih mampu berbuat yang positif dan berkorban dengan jiwa dan harta tetapi memilih hidup negatif tanpa melakukan apa-apa, malas dan apatis? ...
Jika ternyata para pendatang asing dalam negara-ne-gara Islam bersikap keras kepada kaum Muslimin yang tidak mau memusuhi saudara-saudara mereka sendiri (yang seagama, Pen.) demi terlaksananya perintah-perintah para pendatang itu, penyebabnya tidak lain karena sebagian be-sar kaum Muslimin menawarkan bantuan kepada mereka berupa kesediaan untuk memusuhi saudara-saudaranya sendiri dan dengan penuh semangat memberikan saran-saran kepada mereka, yang bahkan bertentangan dengan kepenting-an bangsa mereka sendiri; dan juga kesediaan untuk bekerja sama dengan para pendatang asing itu karena mengharapkan suatu keuntungan yang besar walau harus dengan cara me-langggar agama. Akan tetapi terhadap bantuan yang diper-oleh dari pelanggaran terhadap agama yang dilakukan oleh sekelompok kaum Muslimin itu, dan kesediaan mereka untuk membantu memusuhi saudara-saudara dan warga negara mereka sendiri itu, ternyata para pendatang asing itu tidak mau melepaskan kekuasaan mereka dan juga tidak memberi kesempatan bagi berlakunya hukum-hukum (Islam) mereka. Para pendatang asing itu tidak mau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan atau meremehkan hukum-hukum
agama mereka sendiri, dan juga tidak mau mengabaikan lan-dasan-landasan hukum sosial dan adat istiadat mereka. Mereka tidak mau menyelamatkan kaum Muslimin dari jurang kematian melainkan membawa mereka menuju kematian yang tidak terhormat. ...
Kaum Muslimin itu hampir tidak mempunyai hak apa pun untuk memperoleh ganjaran atau pun hukuman dari Tuhan, walaupun andaikata mereka tidak terlibat dalam kegiatan yang secara diam-diam bertentangan dengan agama mereka.
Mereka menempatkan diri dalam kedudukan menunggu "perintah" dari para pendatang asing yang se-rakah itu dalam rangka menghancurkan bangsa mereka sendiri, atau menyediakan diri sebagai tangga bagi mereka untuk memperoleh kekuasaan dan kekayaan. Mereka berke-yakinan bahwa mereka telah menjalankan kewajiban-kewa-jiban agama mereka dengan membaca doa, mengutip-ngutip kitab Fiqih, melagukan beberapa ayat Qur'an, menyanyi-kan kalimah-kalimah thayibah dengan nyaring dan meng-habiskan waktu mereka untuk berdzikir dan bertafakkur. Inilah gambaran Islam yang sempurna menurut pandangan mereka. Jika ternyata hanya ini yang diperlukan untuk men-jadi Muslim dan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan diakhirat kelak, maka barangkali Qur'an tidak perlu begitu lengkap dengan ajaran-ajaran, perintah-perintah dan petunjuk-petunjuk yang mengajak kaum Muslimin menjalankan Islam dengan akal, jasmani dan harta mereka, melak-sanakan pengorbanan-pengorbanan yang terbesar, bersikap teguh dalam kejujuran dan kesabaran, bekerja untuk ke-baikan sesama Mukmin, menegakkan keadilan dan kesama-an dan juga melakukan segala seuatu yang terpuji. ...
Ada orang-orang yang bertanya mengapa kemunduran itu menimpa kaum Muslimin dan mengapa mereka tidak da-pat berpacu dengan bangsa-bangsa lain. Bagi mereka yang menyadari akan perbedaan-perbedaan di antara kaum Muslimin dan bangsa-bangsa lain itu, dalam tingkat kesadaran-
nya, kesetiaannya, dan kesadarannya akan tanggung jawab dan harga dirinya, akan dengan mudah mendapatkan jawab-an terhadap pertanyaan-pertanyaan ini. ...
Penyebab lain yang penting dari kemunduran kaum Muslimin adalah taqlid buta 3, Sebagai pegangan untuk mempertahankan tradisi-tradisi yang telah berjalan. Bencana yang sangat besar bagi suatu bangsa adalah yang datang dari orang-orang yang beranggapan bahwa segala sesuatu yang kuno merupakan omong kosong dan tidak berguna, tanpa mempertimbangkan nilai intrinsiknya, kecuali dengan me-nyebut "ketuaannya" saja. Bencana-bencana lain yang tidak kurang seriusnya adalah yang muncul dari aliran konserva-tif , yang beranggapan bahwa dalam segala hal tidak bisa dibenarkan adanya perubahan .... Jadi sebenarnya orang-orang yang "terlalu moderen" (ultra modern) dan penganut-penganut Faham Konservatif inilah yang menghancurkan Islam mereka sendiri. ...
Contoh-contoh teladan yang paling balk dalam masalah ini adalah bangsa-bangsa Eropah. Pelajarilah mereka dengan seksama; kita tidak akan menemukan satu bangsa pun di antara mereka yang berkeinginan melarutkan kepribadian bangsanya ke dalam kepribadian bangsa lain. Bangsa Ing-gris selamanya tetap Inggris. Bangsa Perancis juga ingin te-tap sebagai bangsa Perancis, dan sebagainya .... Sampai pada batasnya peradaban Eropah dianggap cukup bagi bangsa-bangsa Eropah dan sampai batas yang sama pula peiadab-an Jepang dianggap cukup bagi bangsa Jepang. Dengan per-kataan lain, peradaban-peradaban dari kedua bangsa itu membatasi ikatan kebangsaan mereka, bahasa, adat-istiadat, agama, konsepsi-konsepsi mereka tentang kemerdekaan dan norma-norma etika, cara berfikir, dan sebagainya. ...
3. taqlid buta (taqlidul a'ma.blind obstinacy) adalah sikap meniru-niru tanpa mengetahui atau mempertimbangkan landasan pemi-kirannya. (Pen.).
4. konservatif (conservative) berasal dari kata kerja to conserve yang berarti mengawetkan atau mengabadikan (Pen.).
Setiap bangsa terikat ketat dengan agamanya dan ter-pateri dengan warisan-warisan keagamaan, kebiasaan, dan dengan ciri-ciri serta norma-norma kebangsaannya masing-masing. Mereka tidak pernah berbicara tentang semuanya itu dengan sikap merendahkan atau berblok-olok. Kaum Muslimin sendiri, di fihak lain, nampaknya tidak memahami nilai mereka sebagai bangsa. Jika ada orang menyuruh mereka untuk berpegang teguh dengan Qur'an, agama, tradisi keagamaan dan fithrah mereka, atau menyuruh mereka untuk tidak bersikap acuh tak acuh terhadap bahasa Arab, atau hams mempertahankan pola hidup, tingkah-laku dan sopan-santun ketimuran mereka, lantas mereka berteriak seperti orang gila: "Persetan dengan Faham Tradisional mu . . . di zaman kemajuan seperti sekarang ini bagaimana mungkin kamu bisa maju seperti bangsa-bangsa lain dengan berpegang pada tradisi-tradisi dan adat-istiadat Zaman Pertengahan mu yang ketinggalan zaman itu?" ...
Sedangkan Kaum Muslimin konservatif . . . mereka te-lah menempatkan kaum Muslimin sebagai korban-korban yang tak tertolong dari bencana kemiskinan dan kefakiran dengan pandangan dan sikap mereka yang memperkecil (pe-ranan) Islam sedemikian rupa sehingga hanya merupakan aturan-aturan tentang kehidupan di luar kehidupan dunia ini .... Kaum konservatif inilah yang sebenarnya menya-takan perang terhadap Ilmu Kealaman, matematika dan segala macam ilmu sosial (arts) dan menganggap ilmu-ilmu itu sebagai praktek-praktek orang-orang kafir sehingga ka-renanya mereka melarang kaum Muslimin menggunakan hasil yang diperoleh dari ilmu-ilmu itu . ...
Petunjuk yang sempurna dari ajaran Islam ialah bahwa setiap orang harus memanfaatkan dengan baik kemampuan berfikirnya yang telah diberikan Allah kepadanya sebagai obor untuk membantu memikirkan sesuatu untuk kepen-tingan dirinya sendiri, dan setelah melakukan segala sesuatu sampai batas kemampuannya itu dia wajib menundukkan
diri kepada Kehendak Allah, derai tercapainya kebahagiaan dari usahanya itu. ...
Islam pada dasarnya menentang segala macam tradisi yang rendah. Islam mengubur tradisi-tradisi yang buruk dan yang tidak mempunyai landasan yang kokoh serta cara-cara kuno dan memutuskan hubungan dengan semua yang palsu dan tidak benar. Jadi bagaimana mungkin Islam dise-but sebagai agama yang statis dan konservatif? ...
Supaya kaum Muslimin sadar, bangkit dan meningkat sampai ke tingkat kemajuan yang paling tinggi, seperti ke-majuan yang dicapai oleh bangsa-bangsa moderen mana pun, maka wajib bagi mereka untuk melaksanakan apa yang dikenal dengan jihad 5, dengan cara mengorbankan jiwa dan harta mereka sesuai dengan perintah-perintah Qur'-an yang sering diulang-ulang itu, Ini adalah salah satu jenis darijihad yang dalam kata-kata moderen dikenal sebagai "pengorbanan" (sacrifice). Tak satu bangsapun dapat mem-peroleh kemenangan tanpa pengorbanan. ...
Jika kaum Muslimin mau berusaha giat dan berjuang, dengan mengambil inspirasi dari Qur'an, mereka dapat menduduki tingkat yang sama seperti bangsa-bangsa Eropah, Amerika dan Jepang, baik dalam pendidikannya, ilmunya maupun kemajuannya. Lebih dari itu, mereka pun dapat mempertahankan agama mereka sendiri sebagaimana telah dilakukan oleh bangsa-bangsa lain. Tidak ada pilihan lain, jika kita memanfaatkan inspirasi dari Qur'an, kita akan lebih bermutu untuk maju daripada bangsa-bangsa lain itu.
*) Dia adalah salah seorang anggota keluarga Druze yang terpandang di Libanon. Dia belajar pada Sekolah Arnerika di Shwayfat, ke-mudian pada Sekolah Al-Hikmah di Beirut. Pada tahun 1889 dalam perjalanan ke Mesir dia berkenalan dengan Abduh dan ke-lompoknya. Dia terpilih sebagai anggota Parlemen Usmani pada tahun 1913, tetapi setelah Perang Dunia ke-1 dia menghabiskan sebagian besar waktunya di Eropah. Dia merupakan penghubung antara Timur Tengah dan Islam di Afrika Utara, dan seorang pem-bela kepentingan Arab di Liga Bangsa-Bangsa. Dia menerbitkan berkala La Nation Arabs (Bangsa Arab). Tulisan-tulisannya me-nekankan ciri Islam dan Nasionalisme Arab.
1. Dikutip dari Our Decline and Its Causes : A Diagnosis of the Symptoms of the Downfall of Muslims, terjemahan M.A, Shakoor (Lahore, 1944; edisi cetak ulang, 1968), him. 1-4, 6-8, 10-13, 15, 19, 39-40, 44-45, 48, 68-71, 73-75, 83-86, 96-97, 99, 132, 134.
96
5. jihad : "berperang, berjuang" untuk melaksanakan kehendak Allah. Istilah tersebut menyangkut bidang moral (penyempurna-an spiritual), bidang intelektua! (penalaran atau interpretasi ten-tang jihad) dan bidang kemiliteran (perang suci). (Penyunting).
Tiada ulasan:
Catat Ulasan