
Brazil akui negara Palestin 1967, AS marah
Saturday, 04 December 2010 12:04
Pengakuan atas negara Palestina diharapkan mampu membendung penjarahan Israel, tapi AS dan Barat enggan mengakui Palestin.
Hidayatullah.com--Pemimpin Fatah Nabil Sha'ath hari Jumaat (3/12) menyambut keputusan Brazil yang mengakui negara Palestin dengan sempadan wilayah seperti ditetapkan tahun 1967.
"Ini adalah hari kegembiraan dan sukacita bagi rakyat Palestin dan Brazil. Ini merupakan pengukuhan persaudaraan antara rakyat kedua negara dan persahabatan dengan Presiden Lula da Silva," kata Sha'ath dalam satu kenyataan.
Brazil bergabung dengan hampir 100 negara yang telah mengakui Palestin sebagai sebuah negara. Menurut Sha'ath, pengakuan adalah jalan tanpa kekerasan yang dapat dilakukan oleh masyarakat internasional untuk melawan pembangunan pemukiman haram oleh Israel, yang dianggapnya pasti mengancam persetujuan dua negara.
"Brazil membantu membangun jalan keadilan, kemerdekaan dan perdamaian di Timur Tengah."
Ketika melakukan kunjungan baru-baru ini ke Brazil, Sha'ath mengatakan bahawa Presiden Luiz InĂ¡cio Lula da Silva setuju untuk mengakui negara Palestin pada yang tepat tiba.
"Teman kami Presiden Lula menepati janjinya, sebagaimana biasanya, dan kami gembira dia telah memilih masa yang tepat ini," kata Sha'ath, yang merupakan Ketua Komisi Hubungan Internasional Fatah.
Sementara itu negara sekutu terdekat Israel, Amerika Serikat, justru mengecam keputusan Brazil.
"Keputusan Brazil sangat disesalkan dan hanya akan merosak perdamaian serta keamanan di Timur Tengah," kata anggota Komite Urusan Luar Negeri Parlemen AS dari Republik, Ileana Ros-Lehtinen.
Ros-Lehtinen mengatakan, negara yang bertanggung jawab akan menunggu sebelum melakukan langkah tersebut, setidaknya hingga Palestin memulai pembicaraan langsung dengan Israel dan mengakui keberadaan negara Yahudi tersebut.
Keputusan Brazil juga memantik emosi dari perwakilan Parti Demokrat AS Eliot Engel, yang mengatakan bahawa keputusan tersebut adalah “sesat” serta mencerminkan hembusan kebijakan luar negeri terakhir Lula yang sebelumnya sudah keluar jalur.
Engel mengaitkan keputusan tersebut dengan "kemesraannya" dengan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dan mengingatkan bahawa Brazil tengah membangun kekuatan sebagai suara vokal di dunia, namun melelui keputusan yang salah dengan langkah itu.
Komuniti internasional mendukung tuntutan Palestin bagi sebuah negara yang mencakup sebagian besar Semenanjung Gaza, Tebing Barat dan Jerusalem Timur, semua wilayah tersebut diduduki Israel pada Perang Enam Hari pada 1967.
Namun, AS dan sebahagian besar pemerintah Barat telah menunda pengakuan Palestin sebagai negara. Alasannya, mereka akan mengakui proses tersebut bila diiringi dengan proses negosiasi kesepakatan perdamaian dengan Israel.Negara kita Malaysia juga harus lebih berani dan tegas tentang kejahatan Israel ini.Jangan lagi kita lembek berbanding Brazil.hidayatullah.com]
Foto: Presiden Lula ketika peresmian nama Jalan Brazil, di depan kantor pusat Otoriti Palestin di Ramallah Mac lalu (Maan).